ESENSI KEPEMIMPINAN & KARAKTER NEGARAWAN

MohammadIdris.id– Esensi kepemimpinan adalah “INFLUENCE” diterjemahkan kedalam bahasa Arab dengan kata “Ta’tsir” yakni memberikan pengaruh. Yaitu upaya mempengaruhi orang lain dengan nilai-nilai tertentu

Dalam prinsip Influence factor-faktor yang bisa memberikan pengaruh bisa dalam bentuk moril maupun fisik. Aspek fisikal yang menjadi factor terhadap pengaruh banyak dipelajari dan dikenal orang banyak sperti : Performance (penampilan), tutr bahasa, kebugaran fisik, dsb

Sedangkan aspek moral yang menjadi factor terhadap pengaruh adalah berupa sifat-sifat pokok keteledanan bagi pemimpin, yaitu : Shiddiq, Amanah, Fathonah, Tabligh. Sekaligus sifat dasar para pemimpin umat dari kalangan para nabi dan Rasul Allah.

Shidiq yaitu kejujuran, sebuah gambaran visi hidup muslim, karena hidup ini berasal dari yang Maha Benar (Jujur) maka hidup harus benar dan terumus dengan benar dan baik. Shidiq akan menurunkan konsep turunan khas manajemen dari kepemimpinan efektif dan efisien. Efektifitas terindikasi dengan pencapaian tujuan secara benar dan tepat, Sedangkan efisiensi terindikasi dengan keluhuran kegiatan dengan teknik dan metoda yang tidak mubazir dan tidak sia-sia.

Amanah artinya tanggung jawab,dapat pula dimaknai dengan trust (kepercayaan) dan kredibilitas yakni kemampuan melaksanakan tugas dengan benar dan baik. Jika shidiq merupakan visi hidup, maka amanah adalah misi hidup setiap muslim, artinya setiap pemimpin sejatinya melaksanakan tugas kepemimpinan kewajiban kemaslhahatan umat dengan penuh amanah dan tanggung jawab dengan cara melaksanakannya secara benar sesuai aturan agama dan konstitusi yang berlaku serta baik sesuai dengan etika dn moralitas sebagai seorang tokoh panutan umat, karena Allah hanya dapat dijumpai dengan ridho dan diridhoi, bila amanah ditepati.

Fathonah maknanya kecerdasan, dengan bahasa yang lain kebijakan dan intelektualitas, untuk mencapai sesuatu yang baik dan benar mesti mengerahkan segala potensi baik antara lain akal; karena itu Allah SWT menyindir orang yang menolak kebenaran dengan firmannya : “Afalaa Ta’qiluun” (Adakah kalian menggunakan akalmu), Awalam yatafakkaruun (apakah mereka berfikir?) dsb.

Implikasi sosio-politik dari sifat Fatkhonah adalah segala aktifitas sejatinya dilakukan berdasarkan ilmu,cerdas dan optimalisasi potensi akal. Sebab kejujuran, amaha dan kredibel tidak cukup dalam kepemimpinan, tetapi mesti ada kecerdasan agar tidak mudah ditipu muslihat orang lain. Juga Islam tidak mengajarkan dikotomi antara “Work Hard and Work Smart”, keduanya harus berjalan seiring secara harmonis dan seimbang.

Tabligh, artinya menyampaikan, yaitu menyampaikan visi dan misi keumatan sebagaimana mestinya, tabligh juga dapat dimaknai pemimpin yang komunikatif dengan masyarakatnya. Implikasi social politik dari sifat tabligh ini antara lain kemampuan share dengan masyarakat dan pejabat-pejabat yang membantunya serta memiliki Care yaitu empati dan peduli terhadap sesame. Sehingga tabligh dalam kepemimpinan merupakan Prinsip Komunikasi Personal dan Massal, juga dapat disebut sebagai Marketing system atau Open Management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *