Kepemimpinan Keniscayaan Hidup

MohammadIdris.id– Demikian besar perhatian Islam kepada kepemimpinan, sehingga dalam hal yang sebahagian orang menganggap sepele pun Islam memandang perlu agar dilakukan pemilihan seorang pemimpin, seperti yang Rasulullah SAW anjurkan agar memilih pemimpin saat 3 orang mengadakan perjalanan (safar) : “Apabila tiga orang keluar untuk melakukan perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang diantara mereka sebagai pemimpin” (HR.Abu Daud)

Dalam siklus yang lebih besar lagi, Islam memandang bahwa kehidupan rumah tangga hendaknya diatur dalam mekanisme kepemimpinan dengan menumbuhkan mas’uliyah (responsibility) setiap anggota keluarga; Laki-laki sebagai seorang Bapak dan suami, wanita sebagai ibu dan istri, anak-anak yang memberikan komitmen dan ketaatannya dalam menjaga harmoni dan norma kehidupan keluarga. Rasulullah SAW menjelaskan hal tersebut dalam sabdanya :” Setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggung jawab terhadap kepemimpinannya, laki-laki bertanggung jawab atas seluruh keluarganya, wanita (ibu) bertanggung jawab atas rumah tangga keluarganya, pembantu bertanggung jawab atas harta tuannya”- alhadits Muttafaq Alaih.

Imam Abu Hatim berkata : Hadits tersebut dengan jelas menyatakan, bahwa setiap orang adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas kepemimpinannya. Adalah kewajiban bagi pemimpin selalu menjaga komitmen kepemimpinan. Pemimpin manusia adalah para ulama, pemimpin para raja adalah akalnya, pemimpin bagi orang shalih adalah ketakwaan, pemimpin murid-murid adalah guru mereka, pembimbing anak-anak adalah orang tua mereka, setiap orang adalah pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang di pimpinnya.

Prinsip kepemimpinan juga nampak dalam ajaran shalat berjamaah, ada imam yang meski memiliki kredibitas sebagai seorang pemimpin jama’ah shalat ada pula ma’mum sebagai pengikut setai yang mengikuti segala gerak gerik sang imam.

Dalam ruang lingkup yang lebih besar, kepemimpinan ditegaskan sebagai sebuah kelangsungan kehidupan bernegara dan bermasyarakat luas, terbukti adanya prinsip taat sebagaimana firman Allah SWT : “ Wahai Orang-orang beriman, taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul serta kepada ulil amri” (QS.An-Nisa : 59)

Model kepemimpinan inilah yang disebut para ulama Islam sebagai sebuah konsensus para sahabat dan tabi’in yang menyatakan bahwa kepemimpinan (al-imamah) merupakan kewajiban bagi warga muslim untuk merealisasinya untuk menjalan tugas-tugas kemaslahatan dunia dan melaksanakan kewajiban-kewajiban agama secara utuh dan stimultan.

Demikian para ulama Islam mengedepankan kepemimpinan dengan perhatian khusus, karena kepemimpinan adalah prinsip yang dapat memberikan dukungan besar bagi realisasi ajaran Islam. Diantara para ulama adalah Ibnu Taimiyah yang menegaskan dalam bukunya “ As-Siyasah asy-syar’iyah.

“Wajib diketahui bahwa memimpin urusan manusia termasuk kewajiban agung dalam agama, bahkan tidak akan tegak agama kecuali dengannya. Sesungguhnya kepentingan dan kemaslahatan anak-anak adam tidak akan terealisasi secara utuh kecuali dengan perkumpulan, karena mereka saling membutuhkan satu sama lain. Dalam perkumpulan itu sudah seharusnya ada seorang pemimpin”

Pemimpin dalam Islam merupakan wakil dari umat yang menyatakan kesiapannya untuk berdedikasi bagi umat, karenanya pemimpin dalam Islam bukan sekedar seorang penguasa yang memiliki otoritas dan kewenangan mengurus masyarakat, lebih dari itu ia adalah seorang Mas’ul (bertanggung jawab) dan Khadim al-ummah (pelayan umat).

Sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq memberikan contoh teladan bagi para pemimpin setelahnya untuk tetap mengedepankan kebersamaan dalam mengemban amanat besar itu, seraya berkata : “Wahai hadirin sekalian, sesungguhnya.aku telah diangkat menjadi pemimpin kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik diantara kalian. Jika kalian melihat aku berada dalam kebenaran, maka bantulah aku, tetapi jika kalian melihat aku keliru maka luruskanlah aku. Taatlah kepadaku selagi aku taat kepada Allah, sebaliknya jika aku berbuat durhaka kepada maka tidak ada kewajiban bagi kalian untuk taat kepadaku”

Sahabat Umar bin Khattab berkata saat hari pertama dinobatkan menjadi khalifah : “Barangsiapa yang melihat penyimpangan dari diriku maka luruskanlah aku”.

Demikian para pemimpin setelah mereka terus melanjutkan mainstream tersebut, karena mereka sadar bahwa pemimpin adalah penerima amanah yang memikul tanggung jawab berat diatas pundaknya; sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam sabdanya : “Kepemimpinan adalah tanggung jawab, dia (jika diabaikan) menjadi penyesalan dan kehinaan dihari kiamat “ al-hadits riwayat Imam Muslim.

Arahan Rasulullah SAW tersebut menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan peluang mencari kedudukan dan jabatan, lebih dari itu ia bukan kesempatan bagi kediktatoran, momen kezhaliman tetapi ia adalah amanah yang dipikul untuk mewujudkan ketentram, kenyamanan dan kesejahateraan hidup umat manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *