Merawat Takwa Pasca Ramadhan (Khutbah Sholat Idul Fitri 1 Syawwal 1439 H)

Disusun dan disampaikan oleh Wali Kota Depok

KH.DR.Mohammad Idris, MA

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Pada saat ini gema takbir terdengar dimana-mana seluruh kaum muslimin mengagungkan asma Allah, mereka bersama mengumandangkan takbir, sebagai ungkapan rasa syukur kepada-Nya yang telah melimpahkan karunia nikmat selesai menjalankan rangkaiah ibadah Ramadhan. Kaum Muslimin bergembira, bersuka-cita sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat berpuasa dan shalat Qiyamul-lail, yag disempurnakan dengan Iedul Fitri, ungkapan kesyukuran berkat taufik dan inayah dari Allah :

(Q.S. Yunus : 58)

“Katakanlah karena karunia dan rahmat Allah-lah hendaknya mereka bergembira, yang demikian itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan dari harta dunia”

Tidak akan merasakan hasil Ramadhan dan manisnya hari ini selain mereka yang menjalankan pesan-pesan Ramadhan dengan baik, sebagai sikap aslama hanifa, indikasi ketundukan dan kepatuhannya kepada Allah Rabb semesta alam. Itulah hakekat Iedul Fitri, kembali kepada fitrah, awal kejadian semula, sikap lurus tidak menyimpang dari aturan-aturan Ilahiah, sebagaimana firman-Nya dalam surah Al-Imran ayat 83

“ Adakah din (pedoman hidup_ selain Dinullah (pedoman Allah) yang mereka inginkan; padahal kepada-Nya menyerahkan diri mereka yang dilangit dan dibumi secara terpaksa atau sukarela dan hanya kepada-Nya kamu dikembalikan” (QS.Ali Imran : 83)

Termasuk manusia pada hakekatnya ia hidup sesuai dengan fitrah, sebelum ada intervensi eksternal yang mengganggu stabilitas kepribadiannya yang fitri. Rasulullah SAW bersabda :

“Setiap orang dilahirkan dalam keadaan fitrah  (Islam). Kedua orangtuanyalah menjadikan Nasrani, Yahudi atau Majusi. (H.R Imam Bukhari)

Maka Iedul Fitri yang kita rayakan hari ini, adalah hari kembali ke fithrah,  kembali kepada al-Haq (kebenaran), kembali kepada Islam dengan seluruh ajarannya secara utuh dan menyeluruh. Hari ini bukan hari raya untuk membebaskan nafsu dan mengumbar syahwat yang selama Ramadan dilatih mengendalikan syahwat tersebut. Karena itu Iedul Fitri diawali dengan takbir sejak terbenam matahari pada hari terakhir Ramadhan sampai imam berdiri untuk memimpin shalat Iedul Fitri dan dilanjutkan dengan pelaksanaan shalat Ied. Hal itu mengandung makna dan nilai-nilai Rabbani sebagai indikasi taqarrub (kedekatan) kepada Allah SWT.

Karena itu dengan usainya Ramadhan bukan berarti putus hubungan dengan Allah SWT. Dengan berakhirnya Ramadhan bukan berarti selesainya ikatan-ikatan kita dengan masjid, dengan shalat jamaah, dengan amal shaleh lainnya, seperti : infak, mengasihi fakir miskin, belas kasih kepada anak yatim, kasih sayang sesama kaum muslimin dan sebagainya. Melestarikan amal shaleh setelah Ramadhan, melanjutkan dan meningkatkan nilai taqwa setelah Ramadhan adalah tanda bukti keberhasilan latihan taat, patuh dan disiplin selama Ramadhan, berhasil mencapai tujuan shaum yaitu La’allakum Tattaqun, senantiasa bertakwa, memelihara dan merawat ketaatan kepada Allah SWT.

Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah

Allahu akbar-Allahu akbar-Allahu Akbar walillahil hamd

Merawat ibadah ritual dan ibadah social inilah yang memerlukan tekad serta upaya yang kuat dan aktif agar terwujudnya ISTIQOMAH, karena balasan dan reward dari Allah juga sangat tinggi dan mempesona, sebagaimana firman Nya :

“Sesungguhnya mereka yang berkata Allah adalah Rabb kami, lalu mereka istiqomah, akan turun malaikat (membawa berita) jangan kamu takut dan sedih, bergembiralah dengan syurga yang dijanjikan. Kami adalah pelindung kamu didunia dan akhirat, bagi kamu didalam syurga segala apa yang kamu inginkan dan harapkan, karunia dari Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Siapa yang lebih baik perkataannya dari orang yang berda’wah, beramal shaleh dan berkata aku adalah golongan orang Islam (Q.S. Fushilat : 30-33)

Allahu akbar-Allahu akbar-Allahu Akbar walillahil hamd

Keberhasilan membangun kepribadian Takwa merupakan upaya memelihara fithrah dari beraneka ragam polusi yang mengotorinya. Adapun memelihara fithrah adalah melaksanakan Islam secara benar dan utuh, karena manusia dan tithrahnya adalah makhluk Allah. Sebagaimana Islam agama fithrah merupakaan ciptaan-Nya juga

“ Maka hadapkan wajahmu (kepada Islam secara lurus, yang merupakan fithrah yang diberikan Allah kepada Manusia, tak ada perubahan pada ciptaan Allah itu, itulah jalan hidup yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengerti, dengan kembali bertaubat kepadaNya, bertaqwalah dan tegakkan shalat serta jangan mempersekutukanNya dengan sesuatu (Q.S Arruum : 30-31)

Dalam ayat ini Allah menjelaskan, bahwa kembali kepada fithrah yaitu kembali kepada Islam, dan kembali kepada Islam yaitu meletakkan kewajiban selaku muslim, yang dirumuskan Allah SWT dalam al-Qur’an, yaitu :

  1. Mempelajari /memahami Islam
  2. Mengimani Islam
  3. Mengamalkan Islam
  4. Menda’wahkan Islam
  5. Bersabar dalam ber-Islam

Mempelajari Islam yaitu : Memahami siapa Allah, Rasulullah dan apa arti Islam, memahami kewajiban dan larangan, halal haram dalam Islam, memahami tata cara beribadah yang benar, memahami rukun Iman dan rukun Islam dan Ihsan, pandai membaca al-Qur’an.

Mengimani Islam yaitu : Mengimani Islam sebagai the way of life, Islam sebagai pedoman hidup yang komprehenasif, mengimani rukun Iman dan rukun Islam, mencintai Allah, para Nabi dan Rasul, Islam dan segenap umat Islam, menjauhi segala bentuk perbuatan yang dibenci oleh Allah dan Rosul, seperti kedzaliman dan dosa.

Mengamalkan Islam yaitu : Melaksanakan ritual ibadah secara benar dan tepat waktu, melaksanakan ajaran Islam pada seluruh aspek kehidupan, aktif mengupayakan kemajuan dalam hidup ber-Islam, mengupayakan hidup disiplin dan bijaksana, mengingat kebesaran dan pengawasan Allah setiap saat.

Menda’wahkan Islam yaitu : Memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan Islam kepada orang lain, memiliki kemitraan, rasa pemilikan terhadap Islam, mengajak orang menerapkan nilai-nilai Islam secara bijaksana, berupaya keras mencerdaskan umat Islam dan mengentaskan kemiskinan, aktif menggalang persatuan dan kesatuan seluruh umat Islam atas landasan Uhkuwah Islamiyah.

Bersabar dalam ber-Islam ialah : Istiqomah dalam ibadah ritual dan ibadah social, sabar dalam menapaki langkah-langkah kebaikan untuk dirinay, keluarga dan masyarakat serta untuk umat manusia.

Bagaimana kita bisa mengamalkan lima kewajiban ber-Islam secara efektif ? Ada beberapa factor pendukung, antara lain :

– Doa memohon hidayah, taufik dari Allah SWT.

– Lingkungan pergaulan yang shalih yang mendukung.

– Kemauan keras (Al-azmu ash-shadiq) untuk melaksanakan kewajiban ini seoptimal mungkin

– Membiasakan renungan (tafakkur) yang jujur dan aplikatif. Mengikuti majleis-majelis dzikir dan ilmu (majelis ta’lim, dsb) secara rutin, dalam rangka memahami Islam secara efektif, komprehensif dan aplikatif.

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Akhirnya, kita semua tentu yakin bahwa kehidupan ini akan berakhir dengan kematian yang pasti kan datang menjemput setiap jiwa dimana dan kapan saja. Setelah itu, mulailah kehidupan hakiki, disana ada pengadilan Allah Yang Maha Agung, hanya ada dua alternative : Kebahagian abadi atau kesengsaraan yang tiada terkira.

Jika kita yakin itu, akankah kita tetap dalam kelalaian yang berkepanjangan?, akankah kita masih melestarikan keangkuhan sikap terhadap Allah Rabbul Izzah wal-jalalah? Akankah kita terus dalam kemaksiatan kepada Allah Sang Pencipta alam semesta?, akankah kita masih suka bergelimangan dosa dan kesalahan-kesalahan serta melanggar aturan Allah?

Pada saat umat manusia dilanda berbagai macam persoalan hidup, konflik antar Negara, kesenjangan social dan ekonomi, kekacauan politik, bahkan dekadensi moral, krisis mental agama dan rohani, yang mengakibatkan manusia tak tahu harus berbuat apa, dilema, bingung, bahkan depresi dan putus asa. Pada saat itu manusia butuh penuntun, perlu prinsip dalam menapaki langkah-langkah kehidupan ini, kembali ke ajaran Islam secara jujur, benar dan konsekuen.

“Siapa yang mengikuti petunjukku ia tidak akan sesat (dalam kehidupan dunia) dan tidak akan sengsara di akhirat kelak, siapa yang berpaling dari petunjuk-Ku ia akan mengalami kesempitan hidup dan diakhirat menjadi buta(sengsara karena melupakan ajaran Allah) (QS. Thaha : 123-124)

Ma’asyirol Muslimin Rahimakumullah.

Ketika takbir bergema berkumandang

Haru dan bahagia membuka lembaran hidup Fitri….Sebagai kemenangan, kemenangan Ramadhan.

Ramadhan pergi meninggalkan kami

Kami rindu kekhusyua’an shalat di bulan Ramadhan

Kami rindu kesyahduan dalam malam qiyamullail

Kami rindu keni’matan taqorrub kepada Sang Pencipta

Kami rindu keheningan bermunajat dalam do’a

Mencurahkan isi hati kepada Sang Rabbul Jalil

Ramadhan….Selamat Jalan

Semoga atsar pengaruh Ramadhan senantiasa mengiringi langkah kehidupan, menuju kemenangan dan kebahagiaan.

Ramadhan….kami ingin kembali meikmati kesejukanmu, malam seribu bulan.

Allahumma ya Allah…Kami yang hadir disini adalah hamba-hambaMu yang dhai’if, lemah tanpa daya, hamba-hambaMu yang banyak dosa dan kesalahan, karena itu ya Allah ampunkanlah dosa-dosa kami dan dosa kedua orangtua kami, dosa para pemimpin kami dan semua orang-orang yang kami cintai.

Ya Allah, jadikanlah kami orang yang senantiasa taat kepadaMu, menjadi contoh teladan bagi putra-putri kami dalam tunduk dan patuh kepadaMu, seperti telah Engkau anugerahkan kepada keluarga Nabi Ibrahim A.S

Jadikanlah istri kami wanita yang shalihat, ang rela membesarkan dan mengasuh anak-anak kami agar menjadi hamba-hambaMu yang senantiasa tunduk dan patuh setia dan  loyal kepada ajaranMu. Jadikanlah istri kami para pembentuk generasi yang shalih, seperti engkau berikan kemuliaan itu kepada ibunda Maryam dan Siti Khadijah.

Allahumma ya Allah, jadikan putra-putra kami, generasi penerus perjuangan kebenaran di jalanMu, sebagimana telah Engkau pahatkan sifat itu kepada Ali bin Abi Thalib, Usamah bin Zaid, Mush’ab bin Umair dll.

Ya Allah jadikanlah putri-putri kami, hamba-hambaMu yang shalihat, yang senantiasa menutup auratnya, selalu menjaga kehormatan diri dan keluarganya, seperti Engkau tancapkan sifat itu kepada Sayyidah Fatimah a-Zahra.

Allahummaya Allah, tolonglah saudara-saudara kami yang sedang berjuang menjaga dan membela kehormatan diri dan tanah air mereka. Bantu mereka ya Allah dari cengkeraman dan tekanan kezholiman musuh-musuhMu.

Perlihatkan kemahaperkasaanMu kepada mereka untuk menghancurkan semua kekuatan mereka yang digunakan untuk membunuh orang-orang tidak berdosa.

Ya Allah, jangan Engkau timpakan musibah dan mala petaka kepada kami, kepada bangsa dan Negara kami lantaran sikap dan perbuatan orang-orang jahil diantara kami.

Jangan Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang tidak takut kepadaMu dan tidak menyayangi rakyatnya.

Robbanaa atina fiddunya hasanah, wafil aakhiroti hasanah, waqinaa adzaabannar

Wassalamu’alaikum Wr.Wb

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *