Idris Dukung Penuh Fatwa MUI Soal Corona

mohammadidris.id-Majelis Ulama Indonesia (MUI) menerbitkan Fatwa Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Covid-19. Wali Kota Depok, Mohammad Idris mendukung penuh fatwa tersebut.

“Terkait persoalan ibadah dalam kondisi saat ini, secara pribadi saya mendukung penuh Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 14 Tahun 2020 tentang Penyelenggaraan Ibadah dalam Situasi Terjadi Wabah Covid-19,” kata Mohammad Idris di Balai Kota Depok, Kamis (19/03/2020).

Seperti apa isi fatwa lengkap MUI terkait situasi pandemi Corona? Berikut isi lengkapnya:

1. Setiap orang wajib melakukan ikhtiar menjaga kesehatan dan menjauhi setiap hal yang dapat menyebabkan terpapar penyakit, karena hal itu merupakan bagian dari menjaga tujuan pokok beragama (al-Dharuriyat al-Khams).

2. Orang yang telah terpapar virus Corona, wajib menjaga dan mengisolasi diri agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Baginya shalat Jumat dapat diganti dengan shalat zuhur, karena shalat jumat merupakan ibadah wajib yang melibatkan banyak orang sehingga berpeluang terjadinya penularan virus secara massal. Baginya haram melakukan aktifitas ibadah sunnah yang membuka peluang terjadinya penularan, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan tabligh akbar.

3. Orang yang sehat dan yang belum diketahui atau diyakini tidak terpapar COVID-19, harus memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
a. Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya tinggi atau sangat tinggi berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.
b. Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

4. Dalam kondisi penyebaran COVID-19 tidak terkendali di suatu kawasan yang mengancam jiwa, umat Islam tidak boleh menyelenggarakan shalat jumat di kawasan tersebut, sampai keadaan menjadi normal kembali dan wajib menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat masing-masing. Demikian juga tidak boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak dan diyakini dapat menjadi media penyebaran COVID-19, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim.

5. Dalam kondisi penyebaran COVID-19 terkendali, umat Islam wajib menyelenggarakan shalat Jumat dan boleh menyelenggarakan aktifitas ibadah yang melibatkan orang banyak, seperti jamaah shalat lima waktu/rawatib, shalat Tarawih dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya, serta menghadiri pengajian umum dan majelis taklim dengan tetap menjaga diri agar tidak terpapar COVID-19.

6. Pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan penanggulangan COVID-19 terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya.

7. Pengurusan jenazah (tajhiz al-janaiz) yang terpapar COVID-19, terutama dalam memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis dan dilakukan oleh pihak yang berwenang, dengan tetap memperhatikan ketentuan syariat. Sedangkan untuk menshalatkan dan menguburkannya dilakukan sebagaimana biasa dengan tetap menjaga agar tidak terpapar COVID-19.

8. Tindakan yang menimbulkan kepanikan dan/atau menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan/atau menimbun bahan kebutuhan pokok serta masker dan menyebarkan informasi hoax terkait COVID-19 hukumnya haram.

9. Umat Islam agar semakin mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah, taubat, istighfar, dzikir, membaca Qunut Nazilah di setiap shalat fardhu, memperbanyak shalawat, sedekah, serta senantiasa berdoa kepada Allah SWT agar diberikan perlindungan dan keselamatan dari musibah dan marabahaya ( daf’u al-bala’), khususnya dari wabah COVID-19.

Di tempat berbeda, MUI Kota Depok pun turut mendukung Fatwa MUI Pusat terkait antisipasi penyebaran Coronavirus. Salah satunya terkait penyelenggaraan ibadah salat berjemaah di masjid.

Ketua Umum (Ketum) MUI Depok, Ahmad Dimyati Badruzzaman menuturkan, imbauan ini merujuk pada Fatwa MUI Pusat Nomor 14 Tahun 2020 Tentang Penyelenggaraan Ibadah Dalam Situasi Covid-19. Dikatakannya, untuk yang sehat dan belum diketahui atau diyakini tidak terinfeksi virus, namun berada di suatu kawasan yang potensi penularan virusnya tinggi, maka ia boleh mengganti Salat Jumat dengan Zuhur di rumah.

“Berdasarkan ketentuan hukum fikih diperbolehkan seperti itu. Karena kondisinya dalam keadaan darurat, daripada menularkan kepada yang lain,” tutur Dimyati, Selasa (17/03/2020).

Adapun bagi yang telah terpapar virus Corona, kata Ahmad Dimyati, wajib menjaga dan mengisolasi diri, agar tidak terjadi penularan kepada orang lain. Termasuk, diperbolehkan untuk sementara tidak salat lima waktu, tarawih, dan Id di masjid. Atau kegiatan keagamaan seperti pengajian.

Lebih lanjut, ucapnya, untuk orang yang sehat harus menjalankan kewajiban ibadah seperti biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar Covid-19. Di antaranya tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun.

“Kami juga mengimbau agar setiap masjid dan mushola yang ada di Kota Depok lebih menjaga kebersihan. Terutama karpet-karpetnya agar dapat terhindar dari virus dan penyakit berbahaya,” terangnya.

Ia mengimbau kepada masyarakat Depok untuk tidak melakukan hal yang menyebabkan kerugian publik, seperti memborong dan menimbun bahan kebutuhan pokok serta masker dan menyebarkan informasi hoax terkait Covid-19 hukumnya haram. Kemudian menyikapi dengan tenang banyak berzikir sholawat berdoa agar masyarakat dijaga oleh Allah.

“Sebaiknya kita tidak panik dan memperbanyak dzikir, sholawat dan doa agar penyakit ini segera sirna. Jangan lupa selalu terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS),” jelasnya.

Dirinya juga menuturkan, fatwa ini juga mengatur pengurusan jenazah yang terpapar Covid-19. Menurutnya, saat memandikan dan mengafani harus dilakukan sesuai protokol medis oleh pihak yang berwenang, namun tetap memperhatikan ketentuan syariat.

“Mudah-mudahan pemerintah menjadikan fatwa ini sebagai pedoman dalam menetapkan kebijakan penanggulangan Covid-19. Apalagi terkait dengan masalah keagamaan dan umat Islam wajib menaatinya,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *