Jalur Pedestrian Jalan Kartini Ramah Difabel

mohammadidris.id – Wali Kota Depok, Mohammad Idris menginstruksikan jajarannya untuk segera memulai penataan jalan dan jalur pedestrian Jalan Kartini. Idris ingin penataan Jalan Kartini dapat memanjakan masyarakat, dengan jalur pedestrian yang ramah difabel atau berkebutuhan khusus.

Menurut Idris, jalur pedestrian atau trotoar di Jalan Kartini akan menerapkan penggunaan guiding block atau bentuk penunjuk arah bagi pejalan kaki dengan disabilitas, salah satunya pejalan kaki tunanetra.

“Guiding block tersebut berfungsi sebagai rambu jalan bagi tunanetra, bertekstur timbul warna kuning di trotoar,” kata Idris, Jumat (16/09/2022).

Idris pun meminta pemasangan guiding block di trotoar Jalan Kartini memenuhi standar, jalurnya tidak terputus, rapi dan cat tak mudah terkelupas serta tidak menambrak tiang hingga pohon.

Selain pemasangan guiding block, trotoar di Jalan Kartini juga akan memiliki bagian landai yang bertujuan untuk mempermudah pengguna kursi roda ketika naik dan turun trotoar.

“Lebar trotoar ini bervariasi, mulai 1 hingga 1,5 meter dengan panjang 1,5 kilometer dengan ketinggian berkisar 15 cm dari bahu jalan, dan selain pengerjaan trotoar, di sana (Jalan Kartini) juga akan ada revitalisasi saluran air (drainase), median jalan dan overlay atau pengaspalan,” ungkap Idris.

Untuk itu, dengan adanya penataan infrastruktur ini, Wali Kota Depok, Mohammad Idris menyampaikan permintaan maaf kepada masyarakat atas ketidaknyamanan selama proses pengerjaan.

“Mohon maaf atas pengerjaan yang efeknya akan sangat membuat hati menjadi kesal, terutama untuk orang-orang yang berangkat dan pulang kerja (melalui rute penataan Jalan Kartini),” tutur Idris.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Depok, Citra Indah Yulianty menuturkan, peningkatan Jalan Kartini yang merupakan bantuan dari Provinsi Jawa Barat (Jabar), dimulai dengan pekerjaan pemasangan saluran air berukuran 60 x 80 sentimeter.

“Pertama yang kita kerjakan saluran airnya, dibongkar dulu trotoar, digali baru salurannya dipasang, nantinya per 20 meter setelah pengerjaan saluran selesai, kami langsung mengecor trotoar menggunakan bondek, lalu kita cor dengan beton setebal 10 sentimeter,” ungkap Citra.

“Jadi total panjang 1,5 kilometer, dari ujung Jalan Dewi Sartika hingga jembatan sebelum Dipo,” tuturnya.

Lanjut Citra, untuk median Jalan Kartini juga akan dibongkar untuk diganti dengan ukuran yang lebih ideal atau standar, dengan tinggi median jalan sekitar 20 hingga 25 sentimeter.

“Median jalan, rencananya kami bongkar dan diganti yang baru. Jadi ketinggiannya nanti ketika dioverlay jalannya naik, mediannya tidak turun, ini dilakukan sebagai pengaman jika pengendara menabrak taman tidak berpindah ke jalur berlawanan, melainkan hanya menabrak mediannya saja” terangnya.

Citra menambahkan, untuk pembangunan trotoar akan menggunakan pola seperti trotoar di Jalan Margonda, dan untuk menambah kenyamanan pejalan akan dibuat bertekstur agar tidak licin, seperti tekstur kulit jeruk misalnya, serta dilakukan hotmix dengan metode pengaspalan.

“Jalur trotoar atau pedestriannya ramah difabel, kita siapkan jalur yang bertekstur, sehingga warga tuna netra bisa terarah dan tidak ada perbedaan elevasi yang membahayakan warga difabel,” tandas Citra.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *