Kader PKB Niat Wakafkan Diri untuk Memenangkan IDRIS-IMAM

mohammadidris.id-Kecintaan kepada sosok Calon Wali Kota Depok, Mohammad Idris membuat Wakil Ketua IV DPC PKB Depok, Suherman Firdaus menjatuhkan pilihan pada Pasangan Calon (Paslon) Nomor Urut 2 di Pilkada 2020.

Pilihan Suherman terhadap Paslon Wali Kota Depok dan Wakil Wali Kota, Mohammad Idris-Imam Budi Hartono jelas berbeda dengan pandangan politik partainya.

Menurut Suherman, pilihan dijatuhkan jauh sebelum Pilkada tahun 2020 yakni pada 2018. Saat itu, dirinya aktif sebagai ketua LPM Kelurahan Cinangka. Karena itu, ia kerap mengikuti kegiatan Wali Kota Depok, Mohammad Idris pada acara tingkat kelurahan hingga kota.

“Beliau tahu kalau saya pengurus PKB, tapi tidak membedakan. Informasi mengenai beliau yang kadang dikatakan orang ternyata tidak benar. Ternyata beliau orangnya humanis,” kata Suherman.

Lebih lanjut, ucapnya, Kiai Idris adalah sosok yang dekat dengan masyarakat. Sebagai orang nomor satu di Kota Depok, Idris juga sangat cepat merespons berbagai usulan yang berkaitan dengan masyarakat, khususnya di Kelurahan Cinangka.

“Usulan masyarakat Cinangka melalui LPM juga kerap melebihi. Awalnya pagu kelurahan Rp1 miliar, mendapat Rp 3 miliar. Bahkan pada tahun 2019 mencapai Rp 8 miliar. Pengajuan Usulan tidak lama direspons. Perhatian kepada masyarakat, dan beliau tidak melihat latar belakang partai. Tapi demi masyarakat,” jelasnya.

Dirinya juga melihat sosok Mohammad Idris mampu merealisasikan program kampanye yang dijanjikan pada periode 2016-2021. Menurutnya, Kalau ada kekurangan sedikit wajar. Yang namanya pimpinan satu periode masih kurang. Apalagi, Kota Depok cukup besar.

“Maka itu, ketika beliau mencalonkan, saya niat mewakafkan diri untuk berjuang memenangkan beliau. Saya janji memenangkan kiai. Meskipun nantinya, PKB tidak mendukung,” tuturnya.

Suherman meyakini, Depok membutukan karakter pemimpin seperti Kiai Idris. Pemimpin pemerintahan yang harus bisa juga memimpin dalam agama.

“PKB pada dasarnya adalah NU yang sangat menjunjung tinggi para kiai, ulama. Karena itu, yang namanya kiai atau ulama harus dibela,” tegasnya

Dengan status kader PKB, dia mengetahui konsekuensi mendukung paslon berbeda. Dirinya pun mengaku siap apabila partai mengambil tindakan tegas berupa pemecatan.

“Saya sadar komitmen yang saya ambil ada efeknya. Jadi, saya siap kalau dipecat,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *