Ketahanan Keluarga dan Ramadhan

Kesejahteraan bangsa ada pada kesejahteraan keluarga
Ketahanan negara ada pada ketahanan keluarga.

Ketahanan keluarga sangat erat kaitannya dengan ketahanan nasional, sebagaimana tercantum dalam undang-undang kita. Merespon hal tersebut, kita  sudah memiliki Peraturan Daerah (Perda) tentang ketahanan keluarga.
Kaitannya dengan shaum, ayat tentang ketahanan keluarga masuk dalam rangkaian ayat tentang shaum (QS Al-Baqoroh: 183 – 187)
Dalam QS Al-Baqoroh ayat 187, Allah SWT mengangkat tentang ketahanan keluarga.

 

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa. (QS Al-Baqoroh:187)

Dalam ayat tersebut Allah SWT menyerukan kepada suami-istri agar berfungsi seperti pakaian yang dapat menghangatkan ketika dingin dan mendinginkan ketika panas. Selayaknya pakaian sebagai penutup aurat, suami-istri pun dituntut untuk saling menutupi aurat pasangannya. Ini bermakna bahwa suami tidak boleh mengumbar kejelekan istrinya kepada orang lain, begitu pun sebaliknya.
Dalam surat tersebut, Allah SWT menutupnya dengan kata “يَتَّقُونَ”, ini bermakana bahwa ketahanan keluarga bagian dari takwa

 

(Sebuah catatan kecil Tarawih Keliling di Masjid Jami Al Amin, Sukamaju baru, 30 Mei 2017)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *