Rasulullah Lakukan I’tikaf pada 10 Malam Terakhir Ramadan

mohammadidris.id-Umat Islam disunahkan melakukan ibadah i’tikaf selama 10 malam terakhir di bulan Ramadan. I’tikaf juga merupakan ibadah yang sangat dianjurkan di dalam Islam, dan disukai oleh Rasulullah SAW.

Demikian disampaikan Wali Kota Depok, Mohammad Idris dalam Tausiah Ramadan, Senin (03/05/2021).

“Sangat disayangkan bagi seorang muslim yang meninggalkan amalan i’tikaf. Padahal Rasulullah SAW tidak pernah meninggalkan ibadah ini sampai akhir hayat,” jelasnya.

Dikatakannya, alasan Rasulullah tidak pernah meninggalkan amalan i’tikaf di 10 malam terakhir bulan Ramadan karena baginda Nabi Muhammad ingin mengajarkan kepada umatnya sebuah perjalanan rohani. Cara Rasulullah merasakan kesejukan hati hingga mampu melenyapkan gemerlapnya harta dunia dengan melakukan i’tikaf.

“I’tikaf juga terbukti menjaga diri dari godaan-godaan pergaulan dari perjalanan hidupnya yang menjerumuskan. Rasulullah SAW mengkhususkan i’tikaf yang beliau lakukan pada 10 malam terakhir di bulan Ramadan,” tuturnya.

Untuk dapat menjalani i’tikaf dengan benar, penting untuk mengetahui panduan i’tikaf tersebut saat Ramadan. Pertama, ujarnya, hendaknya membersihkan niat saat i’tikaf. Kedua, tentu berupaya untuk membersihkan pakaian dan tempat beribadah.

“Diisyaratkan ketika Rasulullah SAW i’tikaf mengeluarkan kepalanya ke bilik Siti ‘Aisyah RA yang sedang haid pada saat itu. Kemudian Siti Aisyah membereskan dan merapihkan rambut Rasulullah,” ungkapnya.

Lalu, ketiga, sambung Mohammad Idris, umat Islam dianjurkan untuk melakukan amalan-amalan wirid, bisa membaca buku hadis, tafsir baik bahasa Arab atau terjemahannya. Dan banyak pekerjaan amalan positif yang bisa dilakukan, tentunya juga memperbanyak doa.

“Ada pula hal-hal yang harus jadi perhatian kita agar dihindari saat ingin melakukan i’tikaf,” katanya.

Antara lain, kegiatan i’tikaf dijadikan kegiatan temu kangen dengan teman-teman. Sebab bisa saja membuat gaduh saat i’tikaf di masjid. Kemudian, hendaknya jangan sampai memaksakan diri untuk beri’tikaf, sementara ada kewajiban di tempat kerja yang ditinggalkan.

“Kita jangan sampai meninggalkan yang wajib untuk melakukan yang sunah dan ini tidak dibenarkan di dalam Islam. Disilakan mengambil izin atau ambil cuti di tempat kerjanya. Dan jangan sampai ibadah i’tikaf yang kita lakukan mengganggu aktivitas kewajiban kita di kantor. Misalnya karena semalaman tidak tidur, justru di kantor dia tidur. Jangan sampai mengganggu hal itu karena pekerjaan bagian dari kewajiban kita sebagai seorang muslim,” terangnya.

“Mudah-mudahan Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan untuk kita melakukan i’tikaf di bulan Ramadan khususnya di 10 malam terakhir,” tutupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *